Frankfuft (14/03/2026). Matematika kerap dipandang sebagai pelajaran yang paling netral di sekolah. Angka dianggap objektif, rumus dipahami pasti, dan jawaban diyakini tunggal. Dari cara pandang ini lahir pembelajaran yang menekankan ketepatan, kecepatan, dan kepatuhan pada prosedur. Siswa dibimbing untuk sampai pada jawaban benar, tetapi tidak selalu diajak memahami makna dari proses berpikir yang mereka jalani. Matematika pun tampil seolah jauh dari persoalan nilai, kekuasaan, dan kehidupan sosial.
Padahal, pendidikan tidak pernah sepenuhnya netral. Di sinilah teori kritis Mazhab Frankfurt menjadi relevan. Tradisi pemikiran ini mengingatkan bahwa sekolah bukan hanya tempat memindahkan pengetahuan, melainkan juga ruang pembentukan cara berpikir, sikap terhadap otoritas, dan hubungan manusia dengan dunia. Karena itu, pendidikan matematika tidak cukup dipahami hanya sebagai proses menguasai konsep dan rumus, tetapi juga perlu dilihat sebagai bagian dari pembentukan manusia.
Mazhab Frankfurt, terutama melalui pemikiran Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno, mengkritik apa yang disebut rasio instrumental, yaitu kecenderungan menggunakan akal semata-mata sebagai alat untuk mencapai hasil yang efisien, terukur, dan fungsional. Dalam pendidikan matematika, gejala ini tampak ketika pelajaran lebih diarahkan untuk mengejar nilai, lulus ujian, dan menuntaskan kurikulum daripada membangun pemahaman yang mendalam. Siswa dibentuk untuk cepat menjawab, tetapi tidak selalu diajak memahami mengapa suatu konsep penting dan bagaimana konsep itu bekerja dalam kenyataan.
Akibatnya, matematika sering berhenti sebagai kecakapan teknis. Siswa mungkin mahir menghitung persentase, membaca tabel, atau mengolah data statistik, tetapi belum tentu memiliki kepekaan terhadap makna di balik angka-angka itu. Mereka dapat mengerjakan soal dengan baik, tetapi belum tentu kritis ketika statistik dipakai dalam media, ketika grafik disusun untuk menggiring opini, atau ketika data digunakan untuk membenarkan kebijakan tertentu. Dalam situasi seperti ini, matematika kehilangan daya reflektifnya.
Padahal, justru di tengah kehidupan modern yang dipenuhi angka, pendidikan matematika yang kritis semakin dibutuhkan. Hampir semua persoalan publik kini dihadirkan dalam bentuk data: kemiskinan, pengangguran, inflasi, pertumbuhan ekonomi, anggaran, survei politik, hingga perubahan iklim. Semua itu menuntut kemampuan membaca, menafsirkan, dan menguji angka secara cermat. Tanpa pendidikan matematika yang reflektif, siswa hanya akan menjadi penerima data yang pasif. Mereka mudah percaya pada tampilan objektivitas angka, tetapi kurang terlatih untuk bertanya dari mana data itu berasal, bagaimana ia disusun, dan untuk kepentingan siapa ia ditampilkan.
Karena itu, pendidikan matematika perlu diarahkan melampaui penguasaan prosedur. Matematika semestinya diajarkan sebagai cara berpikir, bukan sekadar teknik menyelesaikan soal. Siswa perlu dibiasakan menjelaskan alasan, membandingkan strategi, membaca data dengan hati-hati, dan menghubungkan konsep matematika dengan kenyataan hidup di sekitarnya. Statistik, misalnya, tidak hanya diajarkan sebagai rumus, tetapi juga sebagai alat memahami ketimpangan sosial. Persentase tidak hanya dipelajari sebagai hitungan, tetapi juga sebagai cara membaca inflasi, distribusi anggaran, atau lainnya.
Peran guru menjadi sangat penting. Guru matematika tidak cukup hadir sebagai penyampai rumus dan penilai hasil, tetapi juga sebagai pembimbing nalar yang membuka ruang dialog di kelas. Pembelajaran semacam ini tidak mengurangi ketelitian matematika, melainkan menempatkannya dalam cakrawala pendidikan yang lebih manusiawi.
Pada akhirnya, pendidikan matematika dalam perspektif teori kritis Mazhab Frankfurt mengajak kita melihat bahwa pelajaran ini bukan sekadar urusan angka. Ia juga menyangkut cara manusia menggunakan akal budinya. Di tengah masyarakat yang semakin dikuasai data, kebutuhan kita bukan hanya generasi yang pandai berhitung, tetapi juga generasi yang mampu membaca dunia secara jernih, kritis, dan bertanggung jawab. Dalam pengertian itu, matematika bukan sekadar pelajaran sekolah, melainkan bagian dari pembentukan manusia merdeka.
Biodata penulis: Dr. rer. nat. Adi Nur Cahyono, M.Pd., adalah Associate Professor of Mathematics Education di Universitas Negeri Semarang. Ia meraih gelar doktor dalam bidang Didactics of Mathematics di J.W.v. Goethe-Universität Frankfurt am Main, Jerman.
