Cordoba (11/03/2014). Matematika kerap dipahami semata-mata sebagai urusan angka, rumus, dan soal ujian. Ia diajarkan sebagai beban, bukan sebagai jalan berpikir. Akibatnya, matematika tampak jauh dari kehidupan dan seolah tidak memiliki hubungan dengan sejarah peradaban. Padahal, justru sebaliknya: matematika tumbuh dari kebutuhan manusia, berkembang dalam kebudayaan, lalu bergerak dari satu peradaban ke peradaban lain. Karena itu, membicarakan matematika Islam dan Eropa bukan sekadar menoleh ke masa silam, melainkan membaca perjalanan ilmu secara lebih utuh.
Matematika Islam tidak layak dipahami secara sempit hanya sebagai alat bantu bagi kepentingan ibadah. Memang, dalam peradaban Islam, matematika berperan dalam penentuan arah kiblat, waktu salat, kalender lunar, dan pembagian waris. Namun, membatasi maknanya hanya pada wilayah itu justru menyederhanakan kedudukannya. Matematika Islam merupakan bagian dari tradisi intelektual yang tumbuh dalam peradaban Islam, menjawab kebutuhan masyarakat, dan memberi sumbangan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Kekuatan tradisi itu terletak pada kenyataan bahwa ilmu tidak dipisahkan dari kehidupan. Matematika tidak hadir hanya sebagai teknik berhitung, melainkan juga sebagai cara memahami keteraturan dunia. Ia tumbuh dari pertemuan antara kebutuhan praktis, ketekunan berpikir, dan penghargaan terhadap rasionalitas. Dalam kerangka seperti ini, akal tidak dipertentangkan dengan iman, tetapi berjalan bersama dalam membentuk kebudayaan ilmu.
Nama Al-Khawarizmi menjadi salah satu penanda penting dari warisan tersebut. Pemikirannya dalam aljabar ikut meletakkan dasar bagi perkembangan matematika yang pengaruhnya menjangkau hingga ke Eropa. Di samping itu, sosok Al-Biruni juga menunjukkan luasnya tradisi ilmiah Islam. Ketelitian dalam pengamatan dan kecermatan dalam perhitungan yang tampak pada dirinya memperlihatkan bahwa ilmu dalam peradaban Islam berkembang melalui kesungguhan intelektual, bukan sekadar kebanggaan simbolik.
Dari sini tampak bahwa hubungan antara matematika Islam dan Eropa tidak semestinya dibaca sebagai persaingan peradaban. Sejarah ilmu bukan arena untuk menentukan siapa yang paling unggul, melainkan ruang untuk melihat bagaimana pengetahuan tumbuh melalui pewarisan, penerjemahan, pengembangan, dan penyempurnaan. Eropa modern memang membawa matematika ke tingkat kemajuan yang sangat tinggi, tetapi perkembangan itu juga bertumpu pada mata rantai pengetahuan yang lebih panjang, termasuk kontribusi dari dunia Islam.
Sayangnya, pembicaraan tentang kejayaan ilmu dalam Islam kerap berhenti pada kebanggaan masa lalu. Nama-nama besar ilmuwan Muslim sering disebut, tetapi ketekunan intelektual mereka tidak selalu diwarisi. Sejarah dibanggakan, tetapi budaya membaca, meneliti, dan berpikir jernih belum sungguh-sungguh dibangun. Di sinilah tantangan masa kini menjadi nyata.
Dalam konteks Indonesia, persoalan itu terlihat dalam cara matematika kerap diajarkan di sekolah. Matematika lebih sering menjadi alat seleksi daripada sarana pembentukan nalar. Siswa didorong menghafal langkah, tetapi kurang diajak memahami makna. Padahal, pelajaran penting dari sejarah matematika Islam dan perjalanannya ke Eropa terletak pada hidupnya tradisi berpikir itu sendiri.
Pada akhirnya, warisan matematika Islam dan hubungannya dengan Eropa patut dibaca sebagai pengingat bahwa ilmu adalah hasil kerja panjang umat manusia. Peradaban tidak dibangun oleh kebanggaan kosong, melainkan oleh ketekunan berpikir, keberanian belajar, dan kesediaan merawat pengetahuan. Karena itu, menghormati masa lalu bukan berarti sekadar memujinya, melainkan menghidupkan kembali etos yang pernah membuatnya bermakna.
Tentang Penulis: Adi Nur Cahyono adalah dosen Pendidikan Matematika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Aktif dalam pengembangan pembelajaran matematika dan penelitian pendidikan matematika berbasis teknologi.
