Skip to content
Menu
  • Home
  • About Me
Menu

Konferensi Bukan Pabrik Prosiding

Posted on July 27, 2026July 28, 2026 by Adi Nur Cahyono

Dalam percakapan akademik di beberapa tempat akhir-akhir ini, pertanyaan pertama tentang sebuah konferensi sering bukan lagi mengenai tema, pembicara, atau komunitas ilmiah yang terlibat. Yang lebih sering ditanyakan justru: apakah prosidingnya terindeks Scopus, berapa biaya publikasinya, dan kapan artikelnya terbit?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan pergeseran orientasi. Konferensi semakin dipandang sebagai jalur untuk menambah publikasi, memenuhi laporan kinerja, atau mendukung kenaikan jabatan akademik. Presentasi akhirnya hanya menjadi tahapan administratif sebelum artikel masuk ke prosiding.

Publikasi tentu penting. Tidak ada yang salah dengan menerbitkan artikel dalam prosiding yang baik dan terindeks. Masalahnya muncul ketika indeksasi menjadi tujuan utama, bahkan satu-satunya alasan mengikuti konferensi. Dalam keadaan seperti itu, konferensi berisiko berubah menjadi transaksi publikasi.

Keberhasilan konferensi kemudian lebih banyak diukur dari jumlah peserta, jumlah artikel, status pengindeks, dan kecepatan penerbitan. Sementara itu, kualitas diskusi, pertukaran gagasan, diseminasi hasil penelitian, dan kerja sama yang lahir dari kegiatan tersebut justru jarang menjadi ukuran.

Masalah ini tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada peserta atau penyelenggara. Sistem akademik memang lebih mudah menghitung artikel, sertifikat, dan indeksasi daripada menilai apakah seseorang memperoleh wawasan baru, menerima kritik yang bermakna, memperluas jangkauan hasil penelitiannya, atau membangun kerja sama. Ketika yang dihargai terutama sesuatu yang mudah dihitung, perilaku akademik perlahan mengikuti ukuran tersebut.

Padahal, konferensi seharusnya menjadi tempat mengikuti perkembangan ilmu, menyimak paparan pembicara kunci, berdiskusi dalam sesi paralel jika ada, serta berinteraksi dalam sesi formal maupun informal antar peserta. Melalui konferensi, peneliti dapat mendengar langsung alasan di balik suatu penelitian, persoalan yang dihadapi, keputusan metodologis yang diambil, serta arah pengembangan berikutnya. Peserta dapat mengetahui apa yang sedang dikerjakan peneliti lain dan melihat posisi penelitiannya dalam perkembangan bidang yang lebih luas.

Untuk penelitian atau proyek yang masih berjalan, presentasi dapat menjadi ruang untuk memperoleh pertanyaan, kritik, dan masukan. Tanggapan peserta dapat menunjukkan bagian yang belum jelas, membuka sudut pandang baru, atau mengarahkan proyek pada pengembangan berikutnya.

Hasil penelitian yang sudah diperoleh juga perlu dipresentasikan sebagai bagian dari diseminasi. Penelitian tidak semestinya berhenti sebagai laporan atau artikel yang hanya dibaca oleh kelompok terbatas. Temuannya perlu dipertemukan dengan peneliti, pendidik, praktisi, lembaga, dan komunitas yang mungkin dapat menggunakan atau mengembangkannya.

Melalui proses itu, hasil penelitian dapat diadaptasi dalam konteks lain, digunakan untuk memperbaiki praktik, atau menjadi dasar penelitian selanjutnya. Diskusi setelah presentasi juga dapat mempertemukan peneliti dengan calon mitra yang memiliki masalah, data, atau keahlian yang saling melengkapi. Refleksi dari pengalaman konferensi menunjukkan bahwa masukan terhadap sebuah inovasi dapat berkembang menjadi pembicaraan tentang implementasi praktis dan strategi kolaborasi untuk memperluas dampaknya.

Bagian yang paling berharga dari konferensi bahkan sering terjadi di luar ruang presentasi. Percakapan saat jeda, makan siang, ngopi/ngeteh bersama, perjalanan menuju lokasi, atau pertemuan singkat setelah sesi dapat menjadi awal kerja sama. Dalam ruang informal, peneliti biasanya lebih terbuka membicarakan proyek yang sedang berjalan, kesulitan yang dihadapi, data yang tersedia, atau gagasan yang belum cukup matang untuk disampaikan secara formal.

Dari percakapan seperti inilah jejaring dibangun. Namun, jejaring bukan sekadar bertukar kartu nama, mengikuti akun media sosial, atau mengambil foto bersama. Jejaring baru memiliki arti ketika komunikasi dilanjutkan menjadi pertukaran gagasan, penyusunan proposal, penelitian bersama, publikasi kolaboratif, implementasi hasil penelitian, atau program antarlembaga.

Karena itu, datang ke konferensi hanya dengan membawa makalah tidak cukup. Selain menyiapkan presentasi, peserta perlu membawa gagasan proyek dan rencana membangun jejaring. Tiga kata kunci yang penting adalah presentation, project, dan network.

Presentasi berarti menyiapkan penelitian dengan baik, menyampaikan hasilnya kepada komunitas yang relevan, dan terbuka terhadap kritik. Proyek berarti membawa gagasan yang dapat dikembangkan, diterapkan, atau dikerjakan bersama. Jejaring berarti memikirkan siapa yang perlu ditemui, apa yang perlu dibicarakan, serta bagaimana tindak lanjutnya setelah konferensi selesai. Dalam refleksi pengalaman konferensi, ketiga hal tersebut berkaitan erat dengan upaya memperoleh pengetahuan baru, bertemu para ahli, memperluas jaringan profesional, dan membangun kolaborasi.

Dalam bidang pendidikan matematika, misalnya, terdapat International Congress on Mathematical Education atau ICME yang diselenggarakan setiap empat tahun. Kongres ini mempertemukan peneliti, pendidik, guru, pengembang kebijakan, dan berbagai komunitas pendidikan matematika dari banyak negara. Para tokoh dunia dalam bidang pendidikan matematika menjadi pembicara kunci, dan ribuan peserta saling berdiskusi dalam sesi paralel.

Dalam ICME-15 di Sydney, terdapat 2300an delegasi (setengahnya sebagai pemakalah) dari 97 negara, yang dibagi menjadi 54 kelompok kajian. Di dalamnya tidak hanya ada presentasi penelitian, tetapi juga kelompok kajian, diskusi, workshop, pameran, penghargaan, dan dana solidaritas untuk mendukung dan memperluas partisipasi. Kongres ini juga memberikan penghargaan atas kontribusi penting dalam pendidikan matematika.

Pada tingkat regional terdapat ICMI-East Asia Regional Conference on Mathematics Education atau EARCOME untuk kawasan Asia Timur. Di Eropa terdapat Congress of the European Society for Research in Mathematics Education atau CERME. Di kawasan Australasia, Mathematics Education Research Group of Australasia atau MERGA menyelenggarakan konferensi tahunan yang menjadi tempat bertemunya komunitas pendidikan matematika dari kawasan tersebut.

Ada pula forum yang berfokus pada bidang tertentu. The International Group for the Psychology of Mathematics Education atau PME menjadi forum penting bagi penelitian mengenai pembelajaran dan pengajaran matematika dari perspektif psikologi. Dalam bidang pemodelan matematika terdapat International Community of Teachers of Mathematical Modelling and Applications atau ICTMA.

Di beberapa negara juga terdapat pertemuan rutin yang menjadi tempat bertemunya komunitas pendidikan matematika secara luas. Di negara-negara berbahasa Jerman, misalnya, terdapat pertemuan tahunan Gesellschaft für Didaktik der Mathematik atau GDM.

Contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa konferensi adalah bagian dari infrastruktur komunitas ilmu. Di dalamnya, mempertemukan berbagai generasi peneliti, perkembangan bidang dibahas, hasil penelitian didiseminasikan, gagasan diuji, penghargaan diberikan, dan kerja sama baru dibangun.

Manfaat konferensi juga seharusnya tidak berhenti pada peserta. Pengetahuan, pengalaman, hasil penelitian, dan jejaring yang diperoleh perlu dibawa kembali kepada institusi dan masyarakat. Hasilnya dapat diteruskan melalui diskusi dengan kolega, perbaikan pembelajaran, pendampingan mahasiswa, pengembangan penelitian, implementasi di sekolah, atau kerja sama dengan lembaga lain.

Karena itu, pertanyaan setelah mengikuti konferensi seharusnya tidak hanya, “Apakah artikelnya sudah terbit?”
Pertanyaan lain juga perlu diajukan: Apa yang dipelajari? Umpan balik apa yang diperoleh? Hasil penelitian apa yang berhasil didiseminasikan? Siapa yang ditemui? Gagasan apa yang berkembang? Kerja sama apa yang dapat dilanjutkan? Apakah hasil penelitian berpotensi diterapkan atau menjadi dasar penelitian selanjutnya?

Konferensi yang baik seharusnya meninggalkan pengetahuan, pertanyaan baru, dan hubungan yang terus berkembang, bukan hanya sertifikat dan tambahan angka publikasi. Publikasi tetap penting, tetapi semestinya menjadi salah satu hasil konferensi, bukan tujuan tunggal seluruh kegiatan akademik.

Ditulis oleh Adi Nur Cahyono. Simak tulisan lainnya di adinurcahyono.com dan ikuti perjalanan matematikanya di mathematicstravellers.id.

Post navigation

← Ketika Karier Akademik Sulit Direncanakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dr. rer. nat. Adi Nur Cahyono, M.Pd. is a mathematics traveller at mathematicstravellers.id and an Associate Professor of Mathematics Education at Universitas Negeri Semarang (UNNES), Indonesia. He currently serves as Head of the Subdirectorate of Reputation and Partnership, having previously served as the Rector’s Expert Staff for Academic Affairs. He earned his doctoral degree in Didactics of Mathematics from Goethe University Frankfurt, Germany, with academic work related to MathCityMap Indonesia. His academic interests include the integration of ICT in mathematics education, math trails, mathematical modelling instruction, and geometry. He is the founder and leader of mathtrailslab.id, which includes initiatives such as STEMTRAILS.ID. He has also served as a visiting professor and held other international academic appointments at several universities, reflecting his strong engagement in global academic collaboration as well as professional organizations and communities.

© 2026 | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme